Umat Pusat Paroki Sta. Perawan Maria Ratu Rosari Modoinding hari ini, Minggu (28/1) melaksanakan Lomba Figura dan Bakti Sosial antar Wilayah Rohani. Lomba yang dikemas
dalam bentuk devile mengitari jalan dan lorong di pusat paroki ini dilaksanakan
dalam rangka Acara “Kunci Taon”. Sesuai dengan jadwal, pukul 15.00 Wita tampak umat dari beberapa
wilayah rohani sudah memadati halaman samping gereja pusat paroki lengkap
dengan kostum figura yang unik dan lucu.
Setiap kelompok yang datang langsung mendaftar dan mengambil nomor urut devile
yang sudah disiapkan oleh Frater Pastoral, Fr. Cyrill Angelo Tanod, Pr.
Sekitar pukul 15.30 Wita, nampak Pastor Paroki, Pst. Feighty Boseke
sudah berdiri di barisan paling depan dan siap untuk membuka acara. Beliau
berpesan bahwa acara "Kunci Taon" yang dibuat hari ini diisi dengan Figura dan
Aksi Bakti Sosial. Dalam devile, di samping kita menikmati dan saling membagi
kegembiraan, kita juga diajak untuk memungut sampah-sampah di sepanjang jalan
yang dilalui. Oleh karena itu, sudah diingatkan sebelumnya, setiap kelompok
harus membawa karung sebagai tempat menampung sampah yang dipungut. Menurut Pastor, dengan aksi seperti itu, kita
telah mulai menunjukkan sikap solider dan kesetiakawanan kita pada lingkungan
dan masyarakat sekitar kita. Sesudah kata-kata pembuka, devile pun dimulai. Kelompok
wilayah rohani dilepas satu per satu oleh Pastor Paroki.
Tak terungkap dengan kata-kata raut kegembiraan yang terpapar di tiap
wajah umat yang mengikuti acara ini. Mereka tertawa dan saling menertawakan
pakaian dan make-up mereka sendiri.
Beberapa lelaki mengenakan gaun
perempuan dan berdandan layaknya seorang gadis. Tingkahnya pun, meski kentara dibuat-buat seperti perempuan, tetapi
menimbulkan keriuhan orang yang memandang. Mereka terlihat lucu dan
menggemaskan. Beberapa lelaki juga tampak mengenakan seragam dari berbagai
profesi, padahal sesungguhnya mereka tak berprofesi seperti itu. Ada juga yang mengenakan
daster ibu hamil lengkap dengan perut
hamil buatan. Mereka juga tak kalah memancing tawa dan kegembiraan orang yang
berpapasan.
Kelompok perempuan juga tampil unik. Ada yang mengenakan seragam bak seorang anak
sekolahan yang imut dan manis, padahal aslinya sudah tua bahkan tua renta
hehehehe ... Ada yang mengenakan seragam Kaum Bapa padahal aslinya adalah kaum
ibu. Ada juga yang berdandan dan bertingkah seperti pemulung.
Tak mau kalah, kelompok
anak dan remaja didandani juga secara berbeda. Mereka tampil mewakili pelbagai
profesi dan panggilan hidup. Ada yang tampil bak suster dan pastor cilik. Ada juga
yang tampil seperti polisi, tentara dan perawat cilik.
Sungguh, hari ini kegembiraan tertumpah ruah di setiap jalan dan lorong yang
dilalui kelompok figura. Bukan saja mereka yang ber-figura yang bergembira, tetapi masyarakat yang dilewati
sepanjang devile juga tak bisa menahan senyum dan tawa gembira mereka saat menyaksikan
atau berpapasan dengan peserta devile. Devile berakhir kembali di halaman
gereja pusat paroki. Setiap karung sampah yang dibawa oleh setiap kelompok
devile dikumpulkan. Setelah semua
kelompok terkumpul kembali, acara dilanjutkan dengan demonstrasi para peserta
figuran.
Demonstrasi dari para pria yang berdandan dan berpakaian ala perempuan
menjadi penampilan yang mengundang begitu banyak tawa. Mereka dengan penuh
percaya diri tampil seperti berada di atas panggung catwalk, berlenggak-lenggok berpasangan seperti sedang dalam lomba fashion show. Tak terbendung tawa riuh
dari para penonton. Aksi lucu itu menutup dan melengkapi semua
kegembiraan yang tercipta sejak pukul 15.00 Wita tadi. Seperti kata pepatah, mudah-mudahan
kegembiraan yang kita ciptakan dan hadirkan bersama hari ini sungguh bisa
menjadi payung yang menjaga kita tatkala menghadapi “hari-hari berhujan” dalam
perjalanan hidup kita sepanjang tahun ini. Semoga. (sek)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar