Warisan Iman Alm. Pst. Petrus John Karundeng, Pr
(Kesaksian Iman Pastor Terry, Pastor Feighty, Pastor Barto dan Pastor Steven)
Homili Misa Requiem untuk Pastor Petrus John
Karundeng, Selasa, 17 Oktober, yang dipimpin Mgr. Benedictus Estephanus Rolly
Untu MSC, di Gereja Katedral Manado, sangatlah berbeda. Bapa Uskup tidak bicara
panjang lebar. Teman-teman sekelas almarhum; Pst. Terry Ponomban dan Pastor
Feighty Boseke diminta memberi kesaksian tentang beragam warisan Iman Pastor
John Karundeng. Keduanya berganti-gantian membagi pengalaman mereka bersama dengan Pastor Alm John. Kesaksian yang menyentuh dan menggugat nurani. Sebagian besar umat yang memadati Gereja Katedral terhenyak diam, meneteskan air mata. Delapan puluhan imam yang hadirpun terharu, diam merenungkan setiap kisah bermakna, refleksi mendalam kedua imam ini. Pastor Tery berdiri di mimbar samping kiri altar gereja dan mengawali kesaksiannya dengan satu kalimat indah; “Benih harus mati untuk bisa menghasilkan buah berlimpah.” Ya, Pst Terry mengatakan, banyak benih yang Pst John Karundeng tinggalkan sebagai Imam. Ketika hampir semua orang mengatakan, ia panjaha (Jahat), angker, seram, disiplin, karas pe karas. Orang lebih mengenal cover luarnya dan jarang mengenal isi dalamnya. Tak banyak orang tahu bahwa Pst John punya hati lembut bagai sutera, dia bisa menangis bersedih, dia bisa terenyuh atas duka derita orang kecil.
Bukan kebetulan, semalam, (Senin, 16 Okt) sesudah misa, ada seorang anak gadis, usia SMP, berjalan cepat-cepat keluar dan bertemu dengan Pastor Terry sambil terisak tangis. “Pastor Kita kwa mo sekolah besok, kong kita nda mo dapa antar pa Pastor John. (Pastor Saya mau sekolah besok, jadi saya tidak bisa mengantar Pastor John),” kata anak kecil itu sambil menangis. Adakah seorang yang jahat yang ditangisi dengan tulus oleh anak-anak yang mengalami sebuah cinta dan sebuah kasih. Masih pada saat yang sama seorang ibu beragama Budha menangis di depan jenazah Pst John Karundeng dan saat ketemu Pastor Terry, langsung mengungkap kesedihannya. “Pastor tidak bilang-bilang waktu pastor John sakit. Kenapa nanti saat ini baru saya tahu,” kata Ibu tersebut kepada Pastor Terry.
Ada air mata seorang wanita Budhist, bukan karena Pst John jahat, tapi karena ada hati, ada kasih lintas batas. Benar, ia keras dan tegas, seperti yang pernah dikatakan Alm; Saya tidak pernah takut, kalau benar demi kebenaran, bukan hanya mulut yang bicara, tangan dan kaki ikut bicara. Pst Feighty kemudian menyambung kesaksian dengan suara basnya; Banyak orang tahu bahkan berteriak dan bersaksi: tanpa Pst John yang disiplin itu, mereka dulu lao-lao salah (Sebutan untuk Nakal), di SMA Amurang. Tidak akan menjadi orang seperti sekarang ini. Tanpa pastor John, mereka dulu jadi pelajar jalanan, hebatnya hanya hutang minuman di warung, tapi nilai-nilai di sekolah merayap. Umat mengeluh, karena Pst John Karundeng sangat disiplin dalam perayaan Liturgi dan persekolahan. Anak-anak sekolah bahkan guru-guru minta ampun dengan disiplin dan hukuman-hukumannya. Tapi tahukah mereka, dibalik ketegasan itu ada emas dan ratna mutu manikam.
Umat dan para imam, termasuk Uskup makin tersentuh ketika Pst Terry mengundang Pst Barto untuk berbicara tentang Pst John Karundeng yang adalah gurunya sampai akhirnya Pst Barto menjadi Imam. Pst Barto diminta bercerita tentang pengalamannya dihukum pastor John, tidak mendapat komuni karena sementara Misa hanya bercerita di tempat duduk. “Saya disuruh balik ke tampat duduk tanpa menerima komuni. Waktu itu saya sangat malu. Takut juga jangan-jangan setelah Misa beliau akan menghukum saya,” kata Pst Barto yang pada waktu itu berdiri di samping Pst Feighty di mimbar kanan Altar. Pst Barto menambahkan semua yang pernah sekolah di Paroki Amurang pasti mengingat dengan benar betapa tegas dan kerasnya Pst John mendidik mereka. Tetapi buah-buah yang dihasilkannya sudah banyak. “Waktu saya masuk di Seminari, Pastor bangga dan senang sekali. Suatu ketika saat pastor bertugas di Lotta dan datang mengunjungi saya di Seminari, ia berpesan; Kamu harus jadi pastor seperti saya. Dan biarpun kamu kecil jangan sampai orang pandang enteng. Itulah yang selalu saya ingat dalam benak saya,” tutur Pst Barto.
“Saya bangga bahwa saya adalah salah satu dari buah yang dihasilkan dari sosok seorang Pastor John”. Melanjutkan ceritanya, pastor Barto yang bertugas di Paroki Hati Kudus, Tomohon ini, satu kali datang membawakan sakramen maha kudus kepada Pastor John di Rumah Sakit. Pastor Barto sungguh bersyukur, dulu pastor John tidak memberinya hosti karena dia bercerita saja di Gereja, kini dia membawakan hosti itu kepada Pastor John.
Pst Terry dan Pst Feighty menceritakan kesaksian iman dari Pst Alm John Karundeng bak sepasang pembaca puisi yang memainkan lakonnya dengan sangat apik. Membawakan kesaksian secara bergantian, membuat para pendengar tenggelam dalam kisah yang diceritakan. Banyak umat terenyuh. Sedih. Sesekali ada umat yang mencuri kesempatan membersihkan air mata dari pipi mereka. Bahkan juga ada crew Komsos yang sempat meneteskan air mata. Sungguh kesaksian dan refleksi Iman ini menyentuh hati.
Pst Feighty dengan suara khasnya melanjutkan, Pst John membela siapa yang harus dibela, dan menegur siapa yang perlu ditegur seperti motto tahbisannya yang penuh keberanian; Inilah Aku, Utuslah Aku. Bukan sebagai Imam yang mencari kesenangan sendiri tetapi Imam, Nabi yang melaksanakan kehendak Allah. “Kata orang Pst John jarang di tempat, jarang di kantor, jarang di pastoran. Benar, Pst John adalah Pastor in action, bukan di mulut, bukan di rapat-rapat, sebab parokinya adalah seluruh keuskupan, keperihatinan dan kepedulianmu adalah seluruh diosis ini,” Urai Pastor Terry yang matanya mulai berkaca-kaca. Lembah Napu jadi saksi bisu, ketika Pst John mensponsori transmigrasi lokal sekaligus untuk penanaman iman Katolik, agar orang-orang Katolik dari Minahasa, mau bertani, mau menjadi saksi, mau bermisi, mau menanamkan Iman Katolik di jantung Sulawesi Tengah.
Tujuannya agar Gereja memiliki sumbangsih bagi pertanian, bagi kesejahteraan rakyat di daerah tertinggal itu. Pst John pun merintis dengan impiannya yakni kebun raya Napu, mengatur air dan sungai agar cukup untuk pastoran dan cukup untuk masyarakat. “Dengan pelbagai tanaman dan bibit, dengan pelbagai upaya memanusiawikan orang lain termasuk penduduk asli setempat. Mungkin, mungkin, Uskup pun belum tahu, engkau masuk keluar balai desa, meyakinkan masyarakat untuk menjaga dan membela hutan, tentang manfaat tanah, tentang falsafah menanam dan pelestarian alam,” cerita Pst Terry dengan penuh semangat.
Saat Pst Terry terdiam sejenak, dari mimbar samping kanan dari altar terdengar Pst Feighty berkata; “John, saya masih ingat di rapat beberapa tahun lalu. Bapa Uskup dan Imam-Imam, mohon maaf. Berebutan durian dari Sentrum Agraris Lotta. Itu hasil tangan kotormu. Hasil keringat lelahmu. Hasil pandanganmu yang jauh ke depan. Kau menanam bukan untuk lehermu tapi untuk generasi lain. Oh pohon durian dan rambutan di Sentrum Agraris Lotta, berbicaralah kamu tentang Imam yang kotor tangannya tapi murni hatinya. Tentang Imam yang tak pernah bertanya kapan aku boleh cuti?, dan ke mana aku bisa cuti?, tetapi Imam yang bertanya what can I do for you?.
John, sambung Pst Terry lagi, “Engkau keras dalam berpendapat tetapi engkau sangat mendalam ketika ber-refleksi ; maka tak heran orang mengalami dirimu bagaikan inspirator, motivator. Bukan sekedar pendobrak, bukan sekedar revolusioner konyol. Bicaralah pastor Steven tentang John sang inspirator. Bicaralah pastor Steven apa yang kau alami dari Pastor John sebagai sumber inspirasi bagi Imamatmu,” kata Pastor Terry sambil mengundang Pastor Steven sharing di mimbar yang sama dengan Pst Terry.
Pst Steven yang duduk di bangku umat di deretan kedua, berdiri dan berjalan menuju mimbar. Maklum, sekitar 80-an Pastor yang hadir dalam misa requiem ini membuat seluruh panti Imam terisi penuh, sehingga pastor lainnya duduk di Bangku Umat paling depan samping kiri altar. Saat berjalan menuju mimbar, Pst Steven melempar senyum kepada keluarga Pst Alm. John Karundeng yang duduk di bagian depan bangku umat samping kanan altar. Sebagai seorang frater calon Imam, saya dulu ditugaskan untuk menulis skripsi dan salah satu yang harus saya teliti adalah Komisi PSE, karena itu saya sering kontak Pst John untuk wawancara dan bertanya sana-sini. kata Pst Steven mengawali kesaksiannya. “Saya tidak mendapatkan yang rumit, akademik tetapi penjelasan yang sederhana. Saya bukan diajar berterori tetapi berbuat. Wawancaranya dibuat dalam percakapan di kebun, di kandang atau dimana saja di Lotta. Pastor John banyak mengajar tentang filosofi tanah. Filosofi bagaimana mencintai petani. Bagaimana berbuat dan terus berbuat. Saya sungguh begitu terinspirasi dengan kerasnya prinsip hidup, mesti berbuat, berbuat dan terus berbuat. Saya ingat ketika saya meminta Pastor John menulis pada waktu lima puluh tahun Seminari Pineleng, judul tulisannya adalah tangan kotor, hati bersih. Dan itulah Pastor John,” Cerita Pst Steven yang diakhiri dengan menyampaikan terima kasih.
Pst Terry langsung
menyambung cerita; “Ternyata Pastor Steven sebelum Paus Fransiskus berbicara
tentang Imam-Imam yang bekerja, berkeringat, kotor tangannya. John sudah
terlebih dahulu. John, tanganmu memang kotor, kasar, tapi hatimu, hati Allah,
hati Bapa yang peduli. Hati Bapa yang resah memikirkan domba-domba-Nya yang
lain,” kata Pst Terry. Pst Terry yang juga adalah Ketua Komisi Kataketik
Keuskupan Manado ini menceritakan bahwa, meskipun Pst John sakit, tapi lebih
peduli pada Pastor Terry dan teman-teman yang lain. Ketika beberapa minggu
setelah Pst Terry sembuh sesudah serangan jantung, Pst Terry mengunjungi Pst
John dan Alm Pst John berkata kepada Pst Terry bahwa Pst Terry beruntung tempat
tinggalnya dekat kota, bisa langsung ditolong oleh dokter. Tapi, Pst Feighty
kasihan. Kalau jadi apa-apa dengan Pst Feighty bisa abis
di jalang kwa dia/Bisa Meninggal dalam perjalanan. “Engkau
sementara kesakitan. Engkau sementara menderita, tapi hatimu pada orang lain.
Hatimu pada kami yang sehat. Kau tak peduli sakit deritamu. Maafkan kami yg
sehat malah kurang peduli padamu saat-saat kau sekarat,” ujar Pst Terry yang
mulai meneteskan air mata.
Pastor Feighty yang
sekarang ini bertugas sebagai Pastor Paroki Sinisir Modoinding ini melanjutkan;
Kata orang, banyak yang terluka olehmu, pastilah ada, karena engkau bukan Imam
yang mampu menyenangkan dan memuaskan semua orang, karena engkau lebih taat
pada kenabian panggilanmu dari pada semangat menyenangkan orang. Asal bapa
senang, asal ibu-ibu senang, asal umat sanang. Ada yang terluka, tetapi luka
itu tidak membawa mati, bahkan membawa hidup. Berapa banyak orang yang ingat
akan jasamu, membela yang kecil lemah, memperjuangkan kepedulianmu. Buktinya,
ada orang yang merasa berutang budi padamu, merasa dibela, merasa diselamatkan,
merasa ditolong, maka salahkah ketika orang-orang ini mengasihimu dan
melayanimu bagai hamba di hari-hari berat dan hari-hari engkau paling mengalami
pergumulanmu. Suasana semakin mengantarkan umat pada gelinangnya air mata, Pst
Terry melanjutkan kesaksian ini; Kata orang John, kau itu Pastor type tiada
maaf, tiada ampun, engkau untouchable,
bahkan katanya engkau mati rasa.
Dibalas dengan suara
berat dari Pastor Feighty; Namun, engkaulah sang kakak yang dengan rendah hati
bagai hamba meminta maaf dan memberi maaf. Engkau mungkin melukai tetapi engkau
juga menyembuhkan. Kata Paus Fransiskus, tiada keluarga yang sempurna, tiada
bapa, tiada ibu, tiada kakak, tiada adik yang sempurna, karena itu kita semua
membutuhkan pengampunan dan pemaafan. Katanya ada orang yang terluka olehmu
John, sambung Pst Terry. Benar engkau setuju juga. Tapi apakah ada orang yang
cukup tau bahwa dirimu juga sakit dan terluka. Ketika engkau tidak diberikan
tugas jelas, ketika engkau tidak diberikan pekerjaan jelas, 3 tahun lamanya
engkau hidup terlunta-lunta bahkan sendiri. Tapi engkau tidak pernah marah,
tidak dendam. Engkau tidak omong-omong kemana juga. Engkau ternyata bisa diam
dan menanggung deritamu dalam Dia yang menguatkan engkau. Terima kasih umat Lotta,
terima kasih suster-suster DSY yang menerimamu sebagai Imam mereka.
Terima kasih kepada
Vikjen Emeritus, Pastor Piet Tinangon yang waktu itu meyakinkanmu kembali
sampai kau siap bertugas lagi di Keuskupanmu yang kau cintai sampai nafas
terakhirmu, tanpa keluh, tanpa mempersalahkan, bahkan kau bilang, kepada Suster
Agustine Sumarauw kau malah malu minta bantuan kepada Keuskupan karena kau tahu
pengobatanmu butuh biaya besar. Isak tangis mulai
terdengar di beberapa bangku umat, suasana semakin hening, kemudian Pst Feighty
melanjutkan; Adakah yang tahu betapa engkau pemikir masa depan keuskupan. Rapat
kerja barusan, saat-saat Pst John kian parah, Bapa Uskup menggugah dan
menggugat kami imam-imam. Apa yang kamu buat untuk 50 tahun ke depan. Seperti
misionaris-misionaris dulu, telah berpikir, telah berbuat untuk kita, untuk
masa kini. Belum tahu barangkali uskup baru kita, bahwa sebagai imam muda
engkau telah berpikir : pastor diosesan harus mampu berdikari juga, kita
membutuhkan dana kehidupan, dana kesehatan, dana cuti dan lain-lain, bahwa kita
perlu sumber yang bisa menghasilkan dana-dana itu, agar kita tidak jadi
pengemis di tengah keuskupan sendiri. Pst John merintis tanah dengan perkebunan
kelapa serta telaga-telaga, memperluasnya dengan sawah-sawah. Tenagamu,
keringatmu mengucur deras, badanmu legam terbakar matahari.
Pst John menyewa
alat-alat berat. Mencari rupa-rupa bibit dan benih, tak tahu kau cari duit dari
mana, kami hanya tahu itu semua ada dan berjalan. “Jarang kami dengar kau cuti
ke Jakarta, atau ke Bali, tak pernah kami dengar kau tamasya ke Bangkok atau
kau dibawa orang pesiar ke luar negeri seperti saya. Kau imam pekerja, kau Imam
lapangan, tapi kami tahu, kau juga sangat suci kalau memimpin perayaan
Ekaristi,” kata Pst Feighty sambil melemparkan senyuman kecil.
Maafkan kami John, Sahut
Pst Terry. Hasil kebun Radey tak pernah kau rasakan membantu pengobatanmu,
sebab itu kau buat bukan utk dirimu, tetapi untuk masa depan imam-imam di
keuskupan ini. John, kami malu bertanya, apa yang sudah kau buat bagi keuskupan
ini. Biarlah kami imam-imam muda masa kini menjawabnya; apa yang sudah kita
berikan bagi gereja tercinta ini. John, engkau tidak pernah cari untung dari
jabatan imamatmu, engkau tidak pernah memperalat imamatmu untuk kesenangan dan
kepentingan pribadi, sampai-sampai kisah seperti ini harus terjadi. “Ketika
engkau di Toli-Toli engkau membutuhkan obat, engkau menyembunyikan identitasmu
sebagai Imam, agar engkau tidak usah mendapatkan obat secara gratis, agar
engkau tetap bisa menolong para penjual yang juga membutuhkan uang. Maksud
baikmu terbuka John, ibu itu lari ke kamar lalu keluar dengan foto tahbisanmu
Bersama kami, dua rekan imammu ini, dan kau tak bisa membela diri lagi. Yah aku
Imam.
John, engkau tidak pernah
memanfaatkan imamatmu untuk kepentingan pribadimu,” kata Pastor Terry dengan
intonasi suara yang begitu sedih. Suara Pst Feighty yang awalnya begitu lantang
mulai mengecil. “John, ketika saatmu kian dekat, engkau menyambut saat-saat
itu, bagai domba dibawa ke tempat pembantaian, tiada keluh, tiada kesah, tiada
amarah, tiada sesal, kau jalani penuh siap sedia. Kau bagai orang yang diundang
ke pesta perjamuan surgawi, engkau mempersiapkan dirimu dengan baik, sadar dan
beriman,” tutur Pastor Feighty sambil terisak tangis.
Engkau menerima sakit
deritamu sebagai salib imamatmu yang harus dipikul sambil mengikuti Dia. Pst
Terry melanjutkan refleksi ini; deritamu di dunia ini telah menjadi api
penyucian bagi jiwamu, derita dan sakitmu 5 tahun ini telah menjadi tapa dan
penitensi bagi dosa dan salahmu, dan engkau memanggulnya, engkau merangkul
salib Imamatmu. Jika Yesus dengan hati terbuka, engkau dengan usus terbuka,
usus tersobek, usus takaluar. Kau tak
pernah mengeluh, kau tak pernah teriak marah, kau tak pernah benci pada Tuhan.
Dalam hening, dalam sepi kau memanggul salib deritamu. Konsekwen seperti
senandung kita bertiga, saat kita ditahbiskan dulu.
Pastor Terry dan Pastor
Feighty menyanyikan lagu dengan lirik ; Kali
ini Tuhan, kumau ikut Tuhan, memikul salibMu dengan sejuta harapan… dunia
kutinggalkan, dunia kulupakan, kumau ikut ke jalanMu Tuhan
Jalan Tuhan, itulah
jalanmu, jalan salib. Sambung Pst Feighty. Di penghujung jalan ini, engkau
minta dipertemukan dengan adik-adikmu, dengan orang-orang yang dekat denganmu,
engkau menangis, engkau mohon maaf dan memberi maaf. Engkau membersihkan kebun
hatimu dengan apik, engkau membersihkan taman hatimu dengan cantik. Engkau
membiarkan air surgawi mengalir, membasahi, menyegarkan.
Kesaksian dari kedua
Pastor se-angkatan dengan Pst Alm ini hampir berada pada puncak perasaan sedih
karena kehilangan Pst John. Air mata dari banyak umat tidak bisa dibendung
lagi. Pst. Terry tetap
melanjutkan kesaksiannya; Hari Minggu lalu, engkau sendiri minta diterimakan
sakramen pengurapan orang sakit, engkau menginginkan persiapan rohani dan
sacramental bagi hati dan hidup imamatmu dan itu menguatkanmu sesaat, untuk
selanjutnya kau semakin siap ketika daya-daya manusiawimu kian melemah. Dan
ketika engkau kian lemah, dilanjutkan oleh Pst Feighty, ditemani imam-imam
dekatmu, engkau bersedia menerima berkat apostolic dan penganugerahan
indulgensi penuh, diawali absolusi dari sesama imammu. Pastor Wens dengan air
mata dan suara gemetar Pst Wens memberkatimu pada pagi itu, di hari Sabtu Imam,
engkau lalu lebih banyak suka tidur dan menahan sakit, bagai anak domba di
altar kurban.
Apalagi yang kau butuhkan
John semua sudah siap, kata Pst Terry. Malam itu adik-adikmu
datang. Sahabat-sahabatmu menyapa dan mendoakanmu. Engkau memasuki sakrat
mautmu. Ada lagu singkat kubisikan di telingamu; ke dalam tanganMu kuserahkan
rohku ya Tuhan Penyelamatku dan kunyanyikan lagu kesayangan kita di komunitas
diosesan tempo dulu. Lirik lagu itu adalah; Veni
Iesu Amor Mi, dan sesudah lagu ini, ketika aku pamit kau tidak mengenalku
lagi, tetapi aku percaya engkau lagi siap berjumpa dengan Iesus, amor mi. Pst Feighty
melanjutkan; Sampai dinihari, Dies Dominica,
diiringi lantunan doa Rosario dan puluhan Ave Maria, engkau mengakhiri jalan
salibmu dengan hembusan nafasmu yang teduh tenang. Membenarkan kata-kata kitab
Wahyu : Berbahagialah yang meninggal di dalam Tuhan, mereka berada di tangan
Allah. Membenarkan syair lagu di bulan Rosario ini: Dan bila aku mati, diucap
bibirku.
Hampir di akhir kesaksian
Iman serta cerita semasa hidup Pst John yang menginspirasi dan menggugah hati
ini, Pst Terry mengatakan; John Masukilah rumah Bapa, bagai hamba yang setia,
engkau telah melayani Dia, kini saatnya Dia melayani engkau. Terima kasih untuk
benih-benih yang kau tabur lewat kesaksian imamatmu yang penuh kerja nyata,
penuh pembelaan pada yang kecil, terima kasih engkau punya hati Imam pekerja
dan pencinta. Sementara itu Pst Feighty juga hampir mengakhiri kesaksian ini
dengan berkata ; John, engkau kini tak kekurangan, saat ini Tuhanlah gembalamu,
berbaringlah di padang rumput hijau.
Terima kasih untuk imanmu, untuk kesetiaanMu pada Tuhan, pada imamat, untuk
benih-benih baik imamatmu. John, berbaringlah di tangan Allah Bapa, yang lebih
subur dari lembah Napu, dengarkan senandung para malaikat yang lebih merdu dari
kicauan burung-burung di pepohonan Lotta. Benih-benihmu akan tetap hidup.
Di akhir kesaksian atau
refleksi tentang warisan Iman dari Pst. John Karundeng ini, Pst Terry dan Pst
Feighty menutupnya dengan sepenggal lantunan lagu yang dinyanyikan berdua. Lagu
yang dulu sering disenandungkan mereka bertiga sambil menunggu waktu kapan
ditahbiskan; Satu hal ini,
satu hal ini, satu hal ini, yang kami mohon, kepada Tuhan, yang kami mohon
kepada Tuhan. Semoga aku boleh diam di rumahMu, semoga aku boleh diam di
rumahMu, ya Tuhan, selama hidupku!
Di akhir perayaan ekaristi ini sebelum jenazah dihantar ke ladang
pekuburan ada tanda ungkapan kasih dimulai dari Bapa Uskup. Mewakili Para
Pastor ialah Pst Yansen Dianomo. Mewakili Keluarga oleh Ibu Rike Karundeng.
Keluarga yang merawat Pst John Karundeng yakni Ibu Theresia juga memberikan
tanda kasihnya. Bapak Noldy Frans yang adalah teman Pst John dalam urusan
kendaraan. Mewakili rumah sakit diserahkan oleh Suster Agustine Sumarauw. Tanda
kasih terakhir diberikan oleh Bapak Guru Bernardus Rawung mewakili umat
Rumengkor. Setelah tanda kasih, ada peletakan karangan bunga, juga diawali oleh
Bapa Uskup. Pst John Mengko mewakili Pastor. Yanes Karundeng mewakili keluarga.
Frater Herman Mandagi mewakili biarawan-biarawati dan terakhir Pst Freddy
Samudia mewakili paroki-paroki yang pernah dilayani Pst John. (Sumber: https://komsosmanado.com/warisan-iman-pst-johnkarundeng)



Tidak ada komentar:
Posting Komentar