(Renungan Misa Malam Natal 24 Desember 2017 di gereja Pusat Paroki Modoinding. Injil Lukas 1:26-38)
Saudara-saudari, ….
Kenapa selalu saja ada penderitaan? Kenapa selalu saja petsai-petsai
jatuh harga? Kenapa selalu saja tomat tidak naik-naik harga? Itu bagian dari
kedukacitaan kita, para petani. Mengalami hal itu si penyanyi langsung pergi.
Ia pergi ke laut. Sesampainya di laut dikabarkannya semuanya kepada karang,
kepada ombak, kepada matahari. Tapi semuanya diam. Semua bisu. Tinggal aku
sendiri terpaku menatap langit. Barangkali di sana ada jawabnya.
Mengapa di tanahku terjadi bencana? Mungkinkah Tuhan mulai bosan dengan
tingkah kita yang selalu bangga dengan dosa-dosa? Ataukah alam mulai enggan
bersahabat dengan kita. Lalu dia sahut, tanyakan pada rumput yang bergoyang.
Sudah ditanya-tanya pada rumput yang bergoyang terus tapi tidak ada jawaban mereka.
Beda dengan ini. Allah memberi tahu ada berita sukacita di tengah
begitu banyak pergumulan hidup kita yang banyak kali bengkok, banyak kali tidak
lurus. Tuhan datang untuk mengatakan:
hari ini telah lahir bagimu Juru Selamat di kota Daud.
Bayangkan itu, cinta Tuhan bagi kita. Dengan penuh kedosaan, hari ini
Tuhan katakan semuanya sirna. Walaupun dosamu merah seperti kermisi, dia akan
jadi putih bagaikan salju. Walaupun merah seperti kain kesumba akan menjadi
putih seperti kapas. Nda pake pengakuan.
Cuma dengan cinta saja.
Sadar akan cinta Allah, bukang
main Tuhan, terima kase banyak kalu bagitu. Kalu orang sadar. Kalu nda sadar
sadar, ya, susah juga. Tapi kalu orang sadar dia pasti akan bilang Tuhan
terima kase banyak. Malam ini kami
betul-betul mengalami Engkau hadir, Engkau Imanuel, Engkau tinggal bersama kami
berbagi kasih sayang, memeluk kami erat-erat. Menyapa kami dengan cinta. Terima
kasih Tuhan, Juru selamat sudah lahir untuk kami. Pakai itu: Juru Selamat.
Yesus sudah lahir. Tidak lagi ada alasan bagi kita untuk kemudian hidup
bermalas-malasan, hidup berfoya-foya, hidup kemudian tidak pernah betul.
Memang lain kali orang sering bertanya kenapa semua ini terjadi. Aku sudah berubah, sudah berusaha. Tetapi
Tuhan mau ingatkan kita mari di tengah berbagai jalan kehidupan kita, di tengah
berbagai kesibukan mancari, di tengah
kesibukan sekolah, di tengah kesibukan urus rumah tangga, jangan pernah lupa
Allah yang mengasihi. Dia mencintai kita apa adanya. Berikanlah hidupmu.
Berikanlah segala yang ada padamu. Menyerahlah pada-Nya. Akuilah bahwa tanpa
Dia kita tidak bisa berbuat apa-apa.
Malam ini salah satu malam yang indah. Tapi kemudian Tuhan akan katakan
karena itu kesulitan bisa kita dapatkan; begitu banyak bencana, begitu banyak
kesakitan, begitu banyak penyakit, begitu banyak hal-hal yang tidak pernah kita
perlu dan tidak sesuai dengan harapan kita. Kenapa itu terjadi? Jangan bertanya
pada rumput yang bergoyang. Tetapi tanyakanlah di dalam hati kita
masing-masing: Kiapa bagitu? Ini yang susah. Kita lain kali sulit untuk
kemudian kunci tangan, berlutut di hadapan Tuhan, kemudian memeriksa: Tuhan
kenapa saya seperti ini. Kenapa tiba-tiba aku dan suamiku seperti mau habis
Tuhan. Kita periksa: kenapa aku seperti tidak lagi menghormati anak-anakku,
mama papaku.Rumput malah dia bisa tanya pada Tuhan.
Tapi sekarang di malam ini
Tuhan bilang, jangan tanya pada rumput yang bergoyang. Tanya pada hati
masing-masing. Jangan selalu anggap diri yang paling benar. Kalau terjadi
pertengkaran, konflik, pertentangan, perselisihan, Yohanes dari Salib itu
bilang tidak ada seorang yang paling benar dan seorang yang paling salah.
Dua-duanya adalah yang paling salah dan paling benar.
Dalam kemegahan pesta natal, malam natal ini mari kita berjumpa satu
sama lain. Kase tangan penuh kasih. Kase tangan penuh damai. Berikan tangan
yang sebenarnya, yang ingin, yang rela aku pegang karena bisa jadi pada satu
waktu jadi penuntun hidup saya. Tanya pada hati masing-masing. Sehingga natal
tahun ini, natal bulan ini, natal kali ini, punya makna besar untuk kita semua.
Amin. (direkam langsung dari renungan pastor Feighty Boseke pada misa malam natal oleh sekretariat paroki)